Me and My Sweet Girl’s
Namaku Dina Meisha Quinza. Sebut saja
aku Dina. Aku lahir di ibukota tercinta pada tanggal 03 Oktober 1990. Aku
memiliki cita-cita yang sama seperti khalayak orang. Aku ingin menjadi dokter.
Ya dokter, aku menginginkan menjadi dokter ketika aku duduk di bangku sekolah
dasar. Alasanku cukup sederhana karena aku ingin menyembuhkan orang sakit dengan tanganku sendiri. Namun, ada
satu alasan lain yang memperkuat tekadku untuk menjadi seorang dokter. Alasan
itu berupa sebuah cerita dimana aku memiliki seorang kakak laki-laki yang
terlahir cacat. Tapi, aku tidak malu memiliki kakak seperti dia. Kedua orang
tuaku merawatnya dengan tangannya sendiri tanpa ada bantuan orang lain. Namun,
suatu ketika ia harus masuk ke sebuah yayasan dimana yayasan tersebut khusus
untuk anak penyandang cacat. Ia dilatih dan belajar di sana. Beberapa tahun
kemudian, ketika ia berumur 10 tahun, ia mendadak kejang-kejang. Lalu, ibuku
menelepon rumah sakit karena ia tidak tahu harus berbuat apa. Lalu, dari pihak
rumah sakit sudah mengirimkan sebuah ambulance
ke rumahku. Ia pun segera dilarikan ke sebuah rumah sakit. Dokter mengatakan
bahwa ia memiliki penyakit radang otak. Sudah seminggu ia terbaring
di rumah sakit. Dan pada akhirnya, ajal menjemputnya tepat pada tanggal 3 April
1998. Aku pun menangis. Tetapi, kedua orang tuaku yang sangat terpukul karena
anaknya telah pulang ke alam yang lebih tenang untuk selama-lamanya. Mulai dari
kisah ini yang membuatku ingin menjadi dokter. Tahun demi tahun telah kulewati
dengan jerih payah belajarku agar menjadi dokter. Kini, aku duduk di bangku perkuliahan.
Aku sangat bangga pada diriku sendiri. Karena aku berhasil menggapai apa yang
aku inginkan sedari kecil. Aku masuk ke jurusan kedokteran! Kalimat itulah yang
melekat di kepalaku karena aku senang bukan kepalang! Aku bersyukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa karena telah mengabulkan permintaan doaku agar diterima di
jurusan kedokteran. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjadi
seorang dokter yang hebat.
Tujuh
tahun telah berlalu. Kini, aku lulus dari jurusan kedokteran dengan hasil Summa Cum Laude. Lalu, aku ingin meniti karier terlebih dahulu
sebelum mengambil S2. Beberapa hari kemudian, aku diterima di sebuah rumah
sakit swasta di Jakarta Barat. Dari pagi hingga pagi buta banyak pasien yang
harusku rawat. Aku bahkan tidak sempat untuk melakukan ibadah karena pasien
begitu banyak.
Pada
suatu hari, seseorang membuka pintu ruangan kerjaku. Lalu, aku langsung melihatnya
ketika pintu ruanganku terbuka. Seorang pria yang mengenakan setelan jas yang
begitu menawan, berperawakan tinggi, dan memiliki paras yang tampan. Terlihat
jelas ia menggandeng anak kecil. Lalu, ia melangkahkan kakinya ke ruanganku
bersama anak kecil dengan wajah yang pucat. Kini, ia duduk dihadapanku bersama
dengan anak kecil tersebut. Pria tersebut merupakan direktur utama stasiun
televisi swasta. Ternyata anak kecil tersebut merupakan anak kandungnya. Lalu,
aku memeriksa dada anak tersebut dan organ lainnya. Anak tersebut memiliki
penyakit yang cukup serius. Setelah itu, aku memberikannya sebuah catatan obat
yang harus dibelinya. Lalu, mereka keluar dari ruanganku.
Hari-hari
telah kulewati dengan sangat biasa. Tidak ada sesuatu yang menarik untuk
diperbincangkan. Suatu ketika di pagi yang cerah, seseorang memasuki dan berdiri
tegak di depanku di dalam ruangan kerjaku. Orang tersebut mengenakan baju
safari. Dia tampak seperti orang sehat. Lalu, diberikannya sepucuk surat
kepadaku. Aku membacanya,
Pagi dokter..
Saya ingin berterima kasih kepada dokter. Karena
berkat dokter, anak saya sudah pulih kembali. Ia juga sudah happy, tidak seperti orang sakit lagi. Saya
ingin membalas jasa Anda. Saya mohon
untuk datang ke kantor saya karena saya sudah menyiapkan sesuatu untuk Anda, dokter.
Saya sudah mengirimkan mobil dan karyawan saya untuk menjemput dokter. Anda
tidak perlu cemas karena saya sudah menghubungi pihak rumah sakit bahwa Anda akan
bertemu dengan saya. Jadi, hari ini Anda akan off dahulu. Dengan demikian, saya ucapkan terima kasih.
Aku sungguh
tidak menyangka bahwa surat tersebut dari direktur utama televisi swasta! Seorang direktur yang
memiliki upah yang tinggi tetapi berhati hangat. Sungguh ini di luar
ekspektasiku! Seperti apa yang dikatakannya, ia telah mengirimkan sebuah mobil
dan karyawannya untuk menjemputku. Aku pun bergegas ke kantornya. Ketika sampai
di kantornya, karyawan tersebut menunjukkan arah ke ruangan direktur utama
tersebut kepadaku. Ruangannya berada di lantai paling atas. Kini, dihadapanku
sebuah pintu berwarna cokelat. Pintu ruangan direktur utama itu berada.
Tiba-tiba hatiku dag dig dug. Lalu,
dengan memantapkan hati aku mengetuk pintu dan dari dalam menjawab ya silahkan
masuk. Aku langsung masuk ke ruangan tersebut. Aku menyapa sang direktur dan
aku dipersilahkannya untuk duduk di sofa di depan meja kerjanya. Sang direktur
pun mengatakan bahwa dia telah menyiapkan sebuah hadiah untukku. Hadiah itu
berupa sebuah acara televisi yang akan menayangkan tentang kesehatan dan aku
akan menjadi pembawa acara tersebut. Aku senang bukan kepalang mendengarkan
bahwa hadiah itu yang akan diberikannya kepadaku! Tetapi ada satu pertanyaan
yang membuatku heran, mengapa ia memberikan hadiah seperti itu untukku? Bukankah
ini berlebihan? Aku pun melontarkan pertanyaan tersebut kepadanya. Dia
tersenyum dan dia pun menjawab bahwa sebenarnya sudah lama ia pengin membuat
sebuah acara televisi tentang kesehatan. Namun, ia belum mendapatkan seorang
dokter yang sesuai dengan kriterianya. Ia
pun mengatakan kepadaku bahwa akulah dokter yang selama ini dia cari. Kata
direktur, aku memiliki paras yang cantik sehingga cocok untuk dijadikan sebagai
pembawa acaranya. Terlebih lagi, nama acara itu adalah Din’s Care. Aku pun termenung-menung karena ada namaku di acara
tersebut! Untuk menghargainya, aku pun menerima hadiah tersebut. Aku pun
bertanya bagaimana dengan rumah sakit? Dia pun mengatakan akan mengurus
segalanya dan aku hanya terima rapi. Aku akan mulai berkerja pada minggu depan.
Hari yang
kutunggu-tunggu pun tiba, dengan semangat pagi, aku bergegas menuju ke kantor
televisi tersebut. Saat tiba di sana, dipersilahkanku untuk tunggu di ruang
tunggu oleh seorang karyawan. Beberapa menit kemudian, datanglah seseorang yang
menyuruhku ke ruang make-up. Lalu, di
ruang make-up ada seorang stylist yang akan menata rambutku dan
mendadaniku. Stylist tersebut
memberikan sebuah baju yang telah disediakan untuk aku pakai untuk membawakan
acara. Setelah aku mengganti pakaian, direktur utama masuk ke ruang make-up. Aku diberikan petunjuk-petunjuk
apa saja yang harus kulakukan ketika membawakan acara itu. Setelah itu, aku
berjalan masuk ke ruangan yang telah di rancang untuk acara televisi ini.
Beberapa menit kemudian, acara Din’s Care
ini pun dimulai! Ternyata untuk melejitkan acara ini diundanglah seorang artis
terkenal yang akan menjadi bintang tamu di acara ini. Artis itu tak lain dan
tak bukan Diana Hediger. Ia merupakan seorang artis, aktris, dan kerap
dijadikan sebagai model. Artis yang multi talenta! Sekitar empat puluh lima
menit telah berlalu, acara Din’s Care untuk hari ini telah usai. Setelah itu,
aku dan Diana sempat bercengkerama agar lebih akrab. Karena Diana artis yang
ramah kepada siapapun walaupun ia artis popular atau terkenal. Kami bahkan
menukar kontak LINE. Keesokan
harinya, aku membawakan Din’s Care
dengan lancar. Aku bersyukur karena rating
acara ini cukup tinggi. Itu menandakan bahwa masyarakat suka dengan acara Din’s Care. Sang Direktur Utama pun
memberikan selamat kepadaku karena aku membawakan acara tersebut dengan baik.
Hari demi
hari telah kulewati dan tibalah hari sabtu dimana pada hari ini, aku sudah
sepakat dengan Diana akan bertemu di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta
Pusat. Tiba di pusat perbelanjaan, aku
mempercepat langkahku agar ia tidak menunggu terlalu lama. Akhirnya aku pun
bertemu dengannya di sebuah tempat makan. Aku duduk di hadapannya. Aku pun
langsung memesan makanan kepada pramusaji. Setelah itu, kami berdua
bercengkerama. Di tengah-tengah bercengkerama, datanglah seorang perempuan yang
cantik jelita. Perempuan tersebut merupakan dahulunya merupakan seorang artis
dan aktris terkenal. Namun, karena beliau telah menikah dengan seorang
pengusaha yang tajir melintir. Ia pun meninggalkan dunia hiburan karena ia
pengin fokus ke keluarganya. Perempuan itu bernama Bella Filberta Geraldine
Helen yang bi asa disapa dengan Bella
Helen. Aku diperkenalkannya oleh Diana dan aku memberikan senyum hangat kepada Bella
Helen. Ia pun memperkenalkan dirinya juga memberikan senyum manis kepadaku ketika
pramusaji datang untuk memberikan makanan yang sudahku pesan. Bella pun memesan
makanan kesukaannya di tempat makan ini. Lalu, kami bertiga saling
bercengkerama dan kami merasa bahwa kami cocok satu sama lain. Setelah makan,
kami bertiga masuk ke sebuah toko baju dimana koleksi baju-bajunya yang
menawan! Aku membeli tiga buah baju, dua buah dress, dan membeli satu buah rok dan dua buah celana. Begitu pula
dengan Diana dan Bella Helen. Setelah kami membeli baju, kami asyik berbincang-bincang
hingga lupa waktu bahwa sudah larut malam. Bella Helen tiba-tiba mengatakan
bahwa sudah saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku pun segera pulang
ke rumah. Begitu juga dengan dua teman dekatku ini.
Ketika tiba
di rumah, telepon genggamku berdering. Aku lihat di layar telepon genggamku
bahwa yang menelpon itu sang direktur utama. Aku pun heran mengapa ia
meneleponku larut malam? Lalu, aku mengangkat panggilan teleponnya. Sang
direktur mengatakan bahwa ia akan mengajakku pergi pada esok hari dan bahkan
beliau akan menjemputku di rumahku. Aku dibuat heran olehnya.
Keesokan
harinya, aku melakukan rutinitas seperti biasa, aku berolahraga agar badanku
bugar. Setelah berolahraga, aku membaca buku kedokteran. Setelah membaca, aku
akan mandi terlebih dahulu. Kemudian, aku sarapan pagi. Karena hari ini
merupakan hari minggu jadi aku akan bersantai di rumah dahulu sebelum direktur
utama itu datang menjemputku. Aku berbincang-bincang dengan anggota keluargaku.
Lalu, ibuku bertanya mengenai acara di Din’s
Care. Maksud ibuku untuk mengetahui apakah aku merasa nyaman atau tidak.
Lalu, aku mengatakan bahwa aku nyaman menjadi pembawa acara Din’s Care. Singkat cerita, waktu telah
menunjukkan pukul 09.00 WIB. Aku bergegas ke kamar untuk bersiap-siap karena
sebentar lagi direktur itu akan datang menjemputku. Kemudian, aku berpamitan
dengan kedua orang tuaku. Lalu, sang direktur utama itu pun datang. Lalu, aku
segera naik ke mobilnya. Di tengah perjalanan, direktur itu mengawali
pembicaraan terlebih dahulu. Kemudian, kami bercengkerama. Lalu, ia
menceritakan bahwa ia telah bercerai dengan istrinya dan hak asuh anak ada di
pria tampan ini. Dan tibalah kami di sebuah tempat yang tidak bisa kutebak
bangunan apa ini? Bangunan ini tampak kuno! Ketika aku mulai memasuki ruangan
itu, aku melirikkan mata ke seluruh penjuru ruangan tersebut. Di dalam ruangan
ini terlihat berbeda dengan apa yang aku lihat dari luar bangunan. Di dalam
ruangan ini terdapat lukisan serta foto yang digantukannya di dinding yang
disusun rapi. Ia menceritakan bahwa ia memiliki hobi melukis dan fotografi.
Pada awalnya, ia pengin menjadi seorang pelukis atau fotografi. Namun, kedua
orang tuanya pun berkata bahwa ia harus meneruskan perusahaan kedua orang
tuanya yang telah dirintis oleh kakeknya. Pupus sudah harapannya untuk menjadi
pelukis ataupun fotografer. Tetapi, ia tidak marah kalau harapannya menjadi
seorang pelukis atau fotografi lenyap seketika. Namun, ia tidak pernah berburuk
sangka karena ia tahu betapa susah sang
kakek telah merintis perusahaan televisi ini. Pada akhirnya, ia pun menjadi
penerus perusahaan sang kakek dan ia menjabat sebagai direktur utama. Lalu, aku
pun berkata kepadanya bahwa ia sekarang menjadi orang sukses karena ia telah menuruti perintah orang tuanya. Ia
pun memberikan senyuman manis kepadaku dan ia berkata bahwa ia bersyukur karena
ia telah menjadi orang sukses. Aku diajak olehnya untuk melihat-lihat hasil
lukisan dan jepretannya. Aku takjub! Karena hasil lukisannya lebih bagus
dibandingkan punyaku dan hasil jepretannya pun juga tak kalah menarik. Waktu
menunjukkan pukul 12.00 WIB, perutku berbunyi hingga ia pun mendengar suara
perutku. Ia pun tertawa dan wajahku memerah karena menahan rasa malu. Ia pun
mengajakku ke sebuah tempat makan yang tidak jauh dari tempatnya. Kami makan
dan bercanda gurau hingga lupa waktu. Aku merasa dekat dengannya. Kemudian, aku diantar pulang olehnya. Hari
yang menyenangkan telah usai.
Keesokan
harinya seperti biasa aku membawakan acara Din’s
Care setiap pukul 10.00 WIB. Pada hari ini, tema di acara Din’s Care adalah makanan yang sehat.
Jadi, yang akan menjadi bintang tamu di
acara ini adalah seorang chef terkenal yaitu Ashalina Azzahra Almeera dan
seorang ahli ilmu gizi yang terkenal yang bernama Erinka Carissa. Banyak orang yang memiliki
pola hidup yang salah khususnya pada pola makanan. Ketika sedang break iklan, kami bertiga
berbincang-bincang dan aku merasa bahwa Carissa dan Shali pasti akan merasa
cocok jika bertemu dengan Diana dan Bella Helen. Maka dari itu, aku mengundang
Diana dan Bella Helen untuk bertemu dengan Carissa dan Shali di sebuah restoran
yang terkenal. Karena aku ingin memperkenal Carissa dan Shali kepada Diana dan
Bella Helen. Akhirnya acara Din’s Care pun selesai. Lalu, kami bertiga menuju
ke restoran yang telah kupilih sebagai tempat pertemuan kami.
Ketika sampai
disana, Diana dan Bella Helen sudah menunggu di dalam. Lalu, kami bertiga
memasuki restoran itu. Kemudian, aku memperkenalkan Carissa dan Shali kepada
Diana dan Bella Helen. Lalu, kami berbincang dan bercanda gurau selagi meminum
kopi hangat dan berbagai makanan yang sudah terhidang di hadapan kami. Diana
dan Shali tampak begitu akrab dan ternyata Diana adalah teman semasa kecil
Shali. Namun, mereka harus berpisah karena Shali harus pindah ke Amerika
Serikat karena orang tuanya mendapatkan tugas disana. Lalu, mereka putus kontak
dan tidak ada kabar satu sama lain. Pada hari ini, pertama kalinya mereka
bertemu kembali setelah belasan tahun putus kontak. Aku senang sekali karena
aku bisa mempertemukan mereka kembali! Lalu, Bella Helen mengusulkan bahwa
alangkah baiknya jika kami membentuk sebuah grup sosialita. Karena kami merasa
bahwa kami cocok satu sama lain. Namun, grup sosialita ini akan berbeda dengan
yang lain karena kami akan melakukan kegiatan yang positif. Karena khalayak
orang mengira bahwa grup sosialita hidupnya akan berfoya-foya saja. Namun, kami
akan meghilangkan pemikiran seperti itu. Carissa langsung menyetujui ide dari Bella Helen. Hari-hari telah aku lewati dengan
mereka selagi ada kesempatan.
Tiga hari
yang akan datang merupakan hari ulang tahunku. Aku akan mengundang seluruh
anggota keluargaku, seluruh teman-temanku, beberapa partner kerjaku selama aku di rumah sakit, dan sang direktur yang
telah memberikanku hadiah yang sangat spesial. Aku akan menggelar pesta ulang
tahunku di sebuah cafe di salah satu hotel berbintang lima pada pukul 16.30 WIB.
Hari yang
kutunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-27
tahun. Aku memeriksa telepon genggamku. Namun, tidak ada satupun yang memberikanku
ucapan selamat ulang tahun kecuali kedua orang tua yang telah mengucapkan ulang
tahun. Hatiku sedih karena di hari yang spesial ini tidak ada yang
mengucapkanku. Aku berangkat ke kantor televisi dengan wajah yang terlipat. Ketika
tiba disana, kantor terlihat sangat sepi. Padahal ia berangkat dari rumah tidak
terlalu pagi dan biasanya ketika ia tiba di kantor sudah banyak orang. Aku
merasa heran tapi aku tetap memasuki gedung itu. Aku menuju ke ruang make-up. Lalu, aku membuka pintu ruang make-up. Ruang make-up pun juga masih gelap dan aku menyalakan lampu di ruangan
itu. Ketika aku menyalakan lampu, terdengar suara confetti dan orang-orang menyerukan selamat ulang tahun Dina! Aku terkejut!
Tapi aku senang karena aku telah mendapat kejutan dari rekan kerjaku dan
khususnya sang direktur. Mereka pun memberikan hadiah kepadaku kecuali sang
direktur. Lalu, mereka meninggalkan ruangan satu per satu kecuali sang
direktur. Ia tetap berada di dalam ruangan itu dan ia mengatakan akan datang di
acara pesta ulang tahunku nanti sore. Kemudian, ia keluar dari ruangan itu.
Tidak ada yang spesial darinya dan juga ia tidak memberikan hadiah kepadaku.
Aku merasa sedih karena tidak mendapatkan
hadiah darinya. Sebenarnya aku sudah lama menyukai direktur utama itu.
Aku terpesona dengan penampilannya yang gagah dan juga tampan. Singkat cerita,
aku sudah menyelesaikan acara Din’s Care
hari ini. Lalu, aku pulang ke rumah dan bersiap diri untuk ke cafe yang telah
aku pesan.
Ketika sampai
di cafe, aku melihat ruangan ini yang telah didekor sedemikian rupa agar
terlihat indah. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, satu per satu para undangan berdatangan
ke cafe itu. Ketika pukul 16.30 WIB, acara pesta ulang tahunku dimulai. Pesta
ulang tahunku dimulai dengan acara meniup lilin kue ulang tahun sembari
menyanyikan lagu ulang tahun. Kemudian,
aku memotong kue ulang tahun dan potongan pertama aku akan berikan
kepada kedua orang tuaku. Lalu, untuk potongan kedua aku akan berikan kepada
sang direktur. Karena ia adalah seseorang yang spesial di hatiku dan potongan
selanjutnya akan aku berikan kepada Diana, Bella Helen, Carissa, dan Shali.
Setelah itu, waktunya untuk makan makanan hidangan yang telah dihidangkan. Di
tengah-tengah acara, terdengar suara mikropon yang berdesing. Lalu, aku
memperhatikan ada apa dan siapa yang ada disana. Ternyata sang direkturlah yang
berdiri disana. Semua orang yang berada di cafe itu tertuju kepadanya.
Begitupun juga denganku yang tertuju padanya. Tiba-tiba ia menatapku dan ia
menyatakan perasaannya kepadaku bahwa ia menyukaiku. Ternyata ia menyukaiku dan
memendamkan perasaannya dari pertama kali dia bertemu denganku di rumah sakit.
Kemudian, ia berjalan ke arahku dan dia bertekuk lutut. Lalu, ia bertanya
apakah kamu ingin menikah denganku? Aku tidak bisa berkata apapun! Aku tidak
percaya bahwa ia juga menyukaiku dan ingin menikahiku! Semua orang yang berada
di cafe itu menyerukan iya apalagi grup sosialitaku yang sangat riuh. Lalu, aku
pun berkata bahwa aku mau menikahi dengan duda yang tampan ini. Semua orang
yang ada disana sangat hiruk-pikuk. Kedua orang tuaku juga tampak begitu senang
karena anak perempuan satu-satunya akan segera menikah dengan seseorang yang
hidupnya sudah mapan walaupun ia adalah seorang duda. Grup sosialita yang
bernamakan Sweet Girl’s mengucapkan selamat kepadaku. Setelah itu, para
undangan mengucapkan selamat kepadaku secara bergiliran. Setelah para undangan
memberikan ucapan selamat, beberapa undangan harus pulang lebih cepat dan
sisanya tetap melanjutkan acara pestaku. Beberapa menit kemudian, para undangan
satu per satu meninggalkan cafe ini kecuali sang direktur yang akan menjadi
suamiku kelak. Ternyata ia ingin
membicarakan tanggal pernikahan kepada kedua orang tuaku. Di tengah
pembicaraan, datanglah anaknya bersama kedua orang tuanya untuk
memperkenalkanku kepada mereka. Kedua orang tua direktur ini memberikan restu
hubunganku dengannya. Anaknya yang bernama Muhammad Dzaki Haikal tampak begitu
senang bahwa ia akan mempunyai mama baru. Untuk lebih akrab dengan anaknya, aku
pun bermain dengannya. Ketika usai bermain dengannya, kami akan menentukan hari
dan tanggal pernikahan kami yang tepat. Setelah diperbincangkan, akhirnya kami
menemukan hari dan tanggal yang cocok. Jadi, kami akan melakukan mengikat janji
suci dan menyelenggarakan resepsi pernikahan secara terpisah. Jadi, kami akan mengikat
janji suci pada hari Jumat, tanggal 01 Desember 2017 dan kami akan
menyelenggarakan resepsi pernikahan pada hari Sabtu, tanggal 03 Februari 2018.
Setelah membahas tentang hari dan tanggal pernikahan, kedua keluarga kami
pulang lebih dahulu ke rumah masing-masing karena sudah larut malam. Tetapi, aku
dan sang direktur serta anaknya, Dzaki belum pulang dahulu. Sang direktur
berkata kepada anaknya bahwa ia akan menikah denganku dan Dzaki harus
menyayangiku sama dengan halnya dia menyayangi ibu kandungnya. Dzaki pun
menyapaku dengan senyuman manis di wajahnya yang tampan seperti ayahnya. Karena
sudah semakin larut malam, aku diantarkan pulang olehnya. Ketika aku pengin
keluar dari mobilnya, ekspresi wajah Dzaki terlihat cemberut. Lantas aku
bertanya padanya mengapa Dzaki cemberut? Lalu, dia pun menjawab kalau ia masih
pengin bermain denganku. Aku pun tertawa dan memberikan pelukan hangat untuknya
sebelum aku keluar dari mobilnya. Kemudian, aku masuk ke rumahku dan
membersihkan badanku. Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan dan tidak
akan pernah aku lupakan hari ini.
Pada minggu
pagi yang cerah ini, aku melakukan rutinitasku seperti biasa. Berolahraga,
sarapan pagi dengan keluargaku, dan masih ada rutinistasku yang lain. Setelah
melakukan semua rutinitasku, aku mengunjungi ke rumah Bella Helen. Karena hari
ini Sweet Girl’s akan berkumpul di rumah Bella Helen. Ketika tiba di rumah
Bella Helen, dibukakan pintu rumah Bella Helen oleh salah satu petugas keamanan
di rumahnya. Aku mengucap salam ketika aku memasuki ruang tamunya. Wow! Rumah
ini sungguh luar biasa! Banyak furniture
yang bergaya klasik eropa yang mewah. Bella Helen menyapaku dari ruang keluarga
yang berada di sisi kananku. Terlihat ia sedang bercengkerama dengan anaknya
yang rupawan dan cantik jelita sama seperti ibunya. Aku pun bermain dengan
anaknya. Ketika aku bermain dengan anaknya Bella Helen, Carissa dan Shali
datang secara bersamaan. Mereka berdua pun mengucapkan salam ketika mereka
memasuki rumahnya Bella Helen. Lalu, mereka berdua duduk di sebelahku dan di
sebelah anaknya Bella Helen. Lalu, aku bertanya apakah kita mempunyai sebuah
agenda untuk melakukan kegiatan positif? Kemudian, Carissa mengatakan bahwa
akan ada sebuah kegiatan sosial di Yayasan Kanker di wilayah Cilandak, Jakarta
Selatan pada tanggal 14 Oktober 2017. Setelah tanggal 14 Oktober 2017, kami
akan mengadakan sebuah kegiatan menanam seribu pohon yang akan dilaksanakan
pada tanggal 29 Oktober 2017 di Malang bersama para pemuda pemudi Malang dan
juga gubernur Malang. Tiba-tiba Bella Helen memberikan sebuah ide jika kita
akan berkumpul kembali dengan menggunakan baju adat masing-masing untuk
memperingati Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2017 di kediamannya.
Aku, Carissa, dan Shali sepakat karena ide itu sangat positif untuk dilakukan.
Kami pun langsung menuliskan agenda itu agar tidak lupa. Namun sudah hampir
tiga jam kami berbincang-bincang, kami tidak melihat Diana. Lalu, Shali
menghubungi Diana untuk menanyakan mengapa ia belum datang juga. Diana pun
menjawab panggilan dari Shali dengan suara yang lemas dan ia mengatakan bahwa
ia sedang dirawat di sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya. Kami
tercengang atas mendengar bahwa Diana dirawat di rumah sakit. Kami pun bergegas
ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, jalanan menuju ke rumah sakit terlihat
begitu macet dan tidak ada jalan alternatif menuju kesana. Ketika kami tiba di
rumah sakit, kami langsung menuju ke kamar Diana. Kamarnya berada di lantai
lima dimana di lantai lima ini khusus pasien VVIP. Tibalah kami di kamarnya
Diana, disamping Diana ada suaminya yang menjaga istrinya terbaring. Bella
Helen pun bertanya apa yang menyebabkan ia sakit? Lalu, Diana pun berkata bahwa
ia kelelahan karena jadwal pekerjaannya yang terlalu padat. Kami bersyukur
bahwa kondisi Diana sudah jauh lebih baik tetapi Diana belum sepenuhnya sehat.
Aku memberikan buah tangan untuknya. Carissa mengatakan bahwa kami memiliki
agenda pada tanggal 14 Oktober 2017, 28 Oktober 2017, dan 29 Oktober 2017 dan
dia berkata kamu harus ikut ya Diana. Lalu, aku menyikutnya dan menegurnya. Aku
mengatakan bahwa Diana tidak perlu ikut jika kondisinya belum pulih seratus
persen. Diana pun tertawa kecil melihat sahabatnya yang bertengkar kecil dan ia
pun berkata mudah-mudahan aku bisa ikut. Semua orang yang berada disini sontak
menyerukan aamiin. Lalu, kami berempat berpamitan kepada Diana. Bella Helen dan
Shali tampak berbincang yang seru dan akan melanjutkannya di sebuah shopping center yang berada di Jakarta
Selatan. Sedangkan aku dengan Carissa akan menonton sebuah film di rumahnya.
Ketika aku tiba di rumahnya Carissa,
ada seekor kucing menghampirinya. Tetapi, kucing itu bukan hewan peliharaan
Carissa. Carissa memperhatikan kucing itu dengan rasa iba. Nampaknya ia kucing
liar. Kucing itu memiliki tiga warna yaitu putih, abu, dan hitam. Namun, kucing
itu memiliki warna putih sebagai warna yang dominan di tubuhnya. Kucing itu
mengeong sebagai pertanda bahwa ia kelaparan. Kami berdua tidak tahu apa maksud
dari kucing itu. Kucing itu pun mengeong lagi dan pada akhirnya Carissa pun
tahu bahwa kucing itu kelaparan. Dia pun segera membelikan makanan kucing di
sebuah supermarket yang dekat dengan rumahnya sedangkan aku menghibur kucing
yang kesepian itu. Aku mengajaknya main di teras depan rumah Carissa. Beberapa
menit kemudian, Carissa pun datang dan diambilkannya sebuah tempat makan kucing
yang ia belikan juga sembari membeli makanan kucing. Ditaruhnya makanan kucing
di tempat makan yang telah ia sediakan. Lalu, kucing itu segera memakannya
dengan lahap. Carissa membelai kepala kucing tersebut. Carissa berniat untuk
merawat kucing tersebut dan menjadikannya hewan peliharaannya. Setelah kucing
itu makan, dimandikannya kucing tersebut olehnya di rumahnya. Ternyata Carissa
sempat memelihara kucing anggora tetapi kucing anggora ini mati karena umurnya
yang sudah tua. Jadi, ia masih menyimpan alat mandi serta sabun di rumahnya.
Lalu, kucing itu sudah bersih kembali dan Carissa akan mencuci badannya dahulu
dan aku disuruhnya untuk menunggu di home
cinema room yang bergaya minimalis modern miliknya di lantai dua. Aku segera
kesana dengan membawa kucing itu. Aku duduk di salah satu bangku dan kucing itu
berlari kesana kemari. Beberapa menit kemudian, Carissa pun datang dengan
tangan yang penuh dengan camilan. Kami berdua pun nonton seperti nonton di
bioskop. Selama kurang lebih dua jam, film itu pun selesai. Aku menikmati film
itu. Setelah menonton film, aku memesan makanan di salah satu restoran melalui
aplikasi dan aku akan mentraktir Carissa. Beberapa menit kemudian, pesananku
akhirnya tiba. Kemudian, kami memakannya di ruang makan yang letaknya berada di
lantai satu. Setelah memakan makanan yang kupesan dan merapikan meja makan yang
berantakan, aku berpamitan kepada Carissa untuk berpamitan pulang. Ketika ingin
pulang, telepon genggamku berdering dan aku melihat di layar teleponku bahwa
yang meneleponnya itu calon tunanganku. Aku pun langsung mengangkat panggilan
teleponnya dan dia berkata dia yang akan menjemputku karena ia ingin mengajakku
ke suatu tempat. Aku menunggunya sembari aku berbincang-bincang dengan Carissa.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu mobil dari kejauhan. Aku segera melihat ke depan apakah yang
datang itu calon tunanganku apa orang lain dan ternyata orang itu bukanlah
calon tunanganku melainkan sahabatnya Carissa sedari kecil yang bernama Khanza Azkadina Mandana
Malika. Ya Nadine nama panggilannya. Kini, Nadine merupakan seorang desainer
terkemuka yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Aku
pun membukakan pintu untuknya dan aku memperkenalkan diri bahwa aku sahabatnya
juga. Ia pun membalasnya dengan suara yang lembut. Lalu, kami bertiga mulai
bercengkerama sembari aku menunggu calon tunanganku datang. Nadine merupakan
orang yang lembut, cantik, dan juga ramah. Aku merasa cocok denganya. Beberapa
menit kemudian, terdengar suara klakson mobil dari depan rumah Carissa. Lalu,
aku melihatnya lagi apakah yang datang itu calon tunanganku atau bukan. Setelah
kuperiksa, ternyata yang datang adalah calon tunanganku dan aku segera
berpamitan kepada Carissa dan juga Nadine.
Kemudian, aku langsung masuk ke dalam mobil calon tunanganku.
Aku kira di dalam mobilnya itu hanya ada aku dan calon tunanganku dan ternyata
ada Dzaki yang terlelap di bangku mobil di belakang bangku pengemudi. Aku
bertanya kepadanya kemana ia akan membawaku pergi? Namun, ia tidak menjawab
pertanyaanku melainkan menaikkan pundak yang pertanda tidak tahu. Karena hari
telah malam, aku tidak sengaja ketiduran di mobilnya karena aku mengantuk
setelah seharian ini aku berpergian dengan Sweet Girl’s. Aku disuruh olehnya
untuk merebahkan bangku mobil agar aku tidur dengan nyaman. Beberapa menit
kemudian, aku dibangunkan olehnya karena tempat tujuan sudah sampai. Aku
menerka sedang berada di daerah dimana.
Lalu, aku bertanya kepadanya apakah ini berada di Kemang? Lalu, ia mengangguk.
Aku tahu ini di daerah Kemang karena SMP aku juga berada di Kemang jadi aku
dengan mudah menerka. Tapi, di depankku bukanlah restoran ataupun pusat
perbelanjaan melainkan sebuah rumah yang bergaya scandinavian. Aku berada di rumah siapa? Aku bertanya kepadanya dan
dia pun menjawab bahwa aku berada di rumahnya. Dia menjelaskan bahwa sebenarnya
aku pengin diajak olehnya ke tempat desainer baju pernikahan yang berada di
kawasan Panglima Polim. Namun, dia tidak jadi kesana karena melihatku kelelahan
dan tadinya ia mengantarkanku pulang tetapi rumahku berada di Kelapa Gading
yang terlalu jauh dari kawasan Panglima Polim. Jadi, ia membawaku ke rumahnya
yang lebih dekat. Ternyata ia memiliki banyak rumah. Rumah induknya berada di
Menteng. Namun, karena aku kelelahan jadi aku dibawakan ke rumahnya yang berada
di Kemang agar aku bisa istirahat disana. Jadi, aku memasuki rumah itu dengan
mengawali salam dan ditunjukkan sebuah kamar yang akan aku tempati. Aku membuka
pintu kamar tersebut dan sungguh luar biasa kamar ini bergaya modern elegan yang berwarna cokelat.
Lalu, aku terbaring di tempat tidur karena aku sudah tidak bisa menahan rasa
kantukku lagi dan dia berkata bahwa ia akan keluar sebentar karena ada urusan.
Sebenarnya ia keluar untuk membelikan baju untukku buat besok pagi ke kantor
televisi. Ketika ia tiba di sebuah toko pakaian wanita, ia bingung harus
memilih baju yang mana. Dia melihat-lihat dan dia mengetahui warna kesukaanku
yaitu warna putih. Karena setiap kali aku ke kantor televisi, ia
memperhatikanku diam-diam bahwa aku lebih sering menggunakan baju yang berwarna
putih. Lalu, ia menemukan sebuah jumpsuit
putih yang menurutnya akan cocok denganku dan dia pun membelinya. Kemudian ia
segera kembali ke rumahnya. Ketika tiba di rumahnya, ia memeriksa keadaanku dan
menaruh belanjaan di atas meja yang dekat dengan tempat tidur. Dia terkejut!
Karena anaknya, Dzaki, tidur di sebelahku. Dia pun senang melihat Dzaki yang
akrab denganku. Lalu, ia menuju ke kamar tamu yang berada di sebelah ruang
tamu. Sebenarnya kamar yang di tempatiku itu merupakan kamar tidurnya! Calon
tunanganku pun tertidur.
Keesokan harinya, aku terbangun dari tidurku. Aku
melihat Dzaki masih tidur di sebelahku dan aku membelai kepalanya. Aku sangat
menyayanginya layaknya anak kandungku. Aku membangunkannya karena sudah
waktunya untuk beribadah dan aku juga membangunkan calon tunanganku untuk
mengingatkan bahwa sudah waktunya untuk beribadah. Calon tunanganku, aku, dan
Dzaki melaksanakan ibadah bersama di musholla yang berada di halaman belakang
rumahnya. Setelah itu, aku membuatkannya sarapan pagi dengan bahan-bahan yang
telah di sediakan di rumahnya. Walaupun di rumahnya ada asisten rumah tangga tetapi
aku ingin membuatkan sarapan pagi untuk calon tunanganku dan Dzaki. Setelah
memasak dan makan bersama, calon tunanganku berkata kamu jangan pulang ke rumah
untuk mengambil pakaian karena aku telah menyiapkannya untukmu. Aku pun merasa
bersyukur karena aku mendapatkan seseorang yang begitu perhatian. Aku bersiap
diri untuk berangkat ke kantor bersama calon tunanganku. Ketika semuanya sudah
siap dan masuk ke dalam mobil yang telah disediakan oleh supir pribadinya.
Sebelum pergi ke kantor, sang supir akan mengantarkan Dzaki sekolah di daerah
Kemang sama seperti biasanya. Tibalah di sekolahnya Dzaki dan ternyata bangunan
di sebelah sekolah dasarnya itu adalah bangunan SMP aku dahulu. Bentuk bangunan
SMP aku tidak berubah sedikit pun yang berubah hanya adanya sebuah masjid
diantara gedung sekolahku dan sekolahnya Dzaki, lahan parkir juga sudah luas
dan tertata rapi. Kemudian, kami menuju ke kantor televisi yang berada di
daerah Setiabudi, Jakarta Barat. Aku memberi tahu agendaku bahwa pada tanggal
14 Oktober 2017 akan ada kegiatan sosial di sebuah yayasan kanker di daerah
Cilandak, tanggal 28 Oktober 2017 aku akan berkumpul dengan Sweet Girl’s dengan
menggunakan baju adat, dan tanggal 29 Oktober 2017 aku akan ada kegiatan
menanam seribu pohon di Malang kepada calon tunanganku. Dia mengatakan bahwa ia
belum pasti bahwa pada tanggal 14, 28, dan 29 Oktober 2017 itu akan kosong.
Jadi, dia belum pasti mengikutiku. Lalu, aku cemberut dan dia mengatakan bahwa
dia akan berusaha untuk ikut denganku. Aku pun tersenyum kembali. Akhirnya,
kami pun tiba di kantor televisi dan melakukan kegiatan seperti biasanya.
Hari telah berganti dengan cepat dan hari ini
merupakan hari jumat. Ketika aku selesai membawakan acara Din’s Care, aku
menghubungi sang desainer yang mengharumkan nama Indonesia, Nadine. Ya, aku
pengin bertemu dengannya di sebuah restoran Jepang yang berada di daerah Kemang
untuk konsultasi kepadanya. Gaun pernikahan yang cocok di tubuhku. Ketika tiba
di restoran tersebut, aku memesan makanan Jepang sembari aku menunggu Nadine
datang. Ketika aku sedang memesankan makanan, calon tunanganku meneleponku dan
bertanya aku berada dimana dan dia akan menghampiriku. Aku pun berkata aku
berada di restoran Jepang yang berada di Kemang. Dengan segera, ia
menghampiriku secepatnya. Setelah pesananku datang, Nadine pun turun dari
mobilnya yang terparkir di depan restoran dan dia segera masuk ke restoran. Aku
pun menyapa Nadine dan dia pun menyapaku balik dan aku menjelaskan kepadanya
bahwa aku sebentar lagi akan menikah dan aku memintanya untuk membuatkan sebuah
sketsa gaun pernikahanku nanti. Lalu, Nadine sepakat bahwa ia pengin membuatkan
sebuah gaun pernikahan untukku. Kemudian, datanglah calon tunanganku dan duduk
di sampingku. Calon tunanganku terkejut karena orang yang berada di depanku ini
desainer yang akan ditemuinya di daerah Panglima Polim bersamaku waktu itu!
Lalu, aku tertawa karena ini hanyalah sebuah kebetulan. Nadine pun mengatakan bahwa
pada malam itu ia tidak berada di Panglima Polim karena ia menemui sahabatnya,
Carissa. Calon tunanganku berkata bahwa untung saja, saya tidak jadi ke
Panglima Polim karena tunangan saya kelelahan jadi saya membatalkan pergi
kesana. Lalu, kami bertiga memulai
perbincangan mengenai gaun pernikahanku. Satu jam kemudian, akhirnya telah
sepakat bahwa gaun pernikahanku akan berwarna putih dan untuk bentuk gaunnya
itu masih dirahasiakan. Setelah bertemu dengan Nadine, aku diajak oleh calon tunanganku
berpergian di malam sabtu. Kemudian, aku diantarkan pulang ke rumahku.
Keesokan harinya, aku bangun di pagi yang cukup
cerah ini. Hari ini akan ada kegiatan
sosial di sebuah yayasan kanker di daerah Cilandak. Sebelum berangkat, aku
harus berolahraga dahulu dan melakukan rutinitas di pagi hari. Kemudian, aku
bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Shali. Karena Sweet Girl’s akan berkumpul
di rumah Shali. Rumah Shali tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat
dari rumahku, jadi aku akan berangkat kesana dengan menggunakan taksi. Selama
di perjalanan, aku menghubungi calon tunanganku dan mengatakan bahwa aku akan
menuju ke rumah Shali dan aku bertanya apakah ia akan menemaniku disana atau
tidak? Lalu, ia pun mengatakan bahwa dia akan menemaniku tetapi ia harus bertemu
dengan seseorang yang sangat penting dahulu. Aku sedikit kesal tetapi aku tetap
senang bahwa ia akan meluangkan waktunya untukku! Beberapa menit kemudian,
tibalah aku di rumah Shali yang bergaya Bali modern (karena ia menikah dengan
seorang chef terkenal dari Bali). Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam
ketika aku melangkahkan kakiku ke dalam rumahnya. Aku dan Shali menunggu di
teras belakang sembari mendengarkan gemercik air mancur di dekat kolam
renangnya. Lalu, Diana dan Bella Helen datang secara serempak. Setelah itu,
Carissa pun turun dari mobilnya dan ada seseorang juga ikut turun dari
mobilnya. Seseorang yang kukenal namanya Nadine sembari memperkenalkannya
dengan anggota Sweet Girl’s yang lain dan Carissa mengatakan bahwa ia adalah
anggota baru Sweet Girl’s. Diana, Shali, dan Bella Helen menyapa sang desainer,
Nadine. Karena semua telah berkumpul, kami segera berangkat ke Yayasan Kanker
Jakarta yang berada di daerah Cilandak. Selama di perjalanan, kami bercanda
gurau dan bernyanyi bersama. Sungguh mengasyikkan! Lalu, kami tiba di Yayasan
Kanker Jakarta. Kami disambut hangat oleh anak-anak yang memiliki penyakit
kanker sejak kecil. Disana kami berbincang-bincang dengan anak-anak kanker.
Mereka senang bahwa kami datang mengunjungi mereka. Aku sebagai dokter
memeriksa sebagian anak-anak tersebut. Setelah aku memeriksa kondisi mereka,
Diana dan Shali membagikan sekotak makanan untuk mereka masing-masing. Mereka
pun memakannya dengan lahap. Kami sangat senang melihat mereka makan begitu
lahap. Beberapa menit kemudian, datanglah seorang lelaki yang ditangannya penuh
dengan tas yang berisikan berbagai hadiah di dalamnya. Lelaki itu adalah calon tunanganku dan ia segera membagikan hadiah tersebut
kepada anak-anak. Anak-anak pun mengambil hadiahnya secara bergiliran. Aku
memperhatikannya dengan perasaan bangga dan juga bersyukur karena aku memiliki
seorang laki-laki yang memiliki hati lembut dan saling berbagi satu sama lain
dan lelaki itu akan menjadi pendamping hidupku. Anak-anak pun segera membuka
hadiah. Ada yang mendapatkan sebuah baju, sebuah buku gambar serta peralatan
menggambar, dan berbagai macam hadiah yang tak kalah menarik. Lalu, tunanganku
bercengkerama dan tertawa bersama bersama mereka. Aku baru menyadari kalua
tunanganku menyayangi anak kecil seperti diriku. Waktu berjalan begitu cepat,
aku dan Sweet Girl’s serta calon tunanganku berpamitan pulang kepada
mereka. Di tengah perjalanan pulang,
telepon genggam milik Shali berdering dan dia mengangkat panggilan teleponnya
itu. Dia mendapatkan kabar bahwa neneknya telah pulang ke surga. Dia nangis
tersedu-sedu. Kami pun turut berduka cita atas kematian neneknya. Pada
akhirnya, kami semua pergi melayat ke rumah neneknya. Setelah melayat, kami pun
pulang ke rumah masing-masing kecuali Shali. Ia masih tidak percaya dan tidak
rela bahwa neneknya telah pulang selama-lamanya.
Hari telah berganti, hari ini aku akan berencana
untuk mengundang Sweet Girl’s ke rumahku. Karena di rumahku akan ada pertemuan
keluarga besarku dan keluarga besar dari calon tunanganku. Tetapi, aku akan melakukan
rutinitas pagi sebelum acara dimulai. Setelah itu, Shali pun datang ke
rumahku. Seharusnya Shali masih di rumah
almarhumah neneknya, tetapi karena ia itu anak yang kuat. Jadi, ia akan lebih
baik jika ia datang ke rumahku untuk menghibur dirinya. Karena ia datang lebih
awal, aku meminta dia untuk membuat kue dan mengajariku cara membuatnya. Shali
pun membuat sebuah kue kesukaan tunanganku, kue brownies yang diatasnya
terdapat baluran krim keju. Aku
memperhatikan agar aku bisa membuat kue untuk suamiku kelak. Setelah selesai,
aku akan memperhias kue itu agar terlihat cantik dan aku menaruh kue tersebut ke lemari pendingin agar
tidak mencair. Beberapa menit kemudian, datanglah Diana, Carissa, Nadine, dan
Bella Helen. Mereka membantu ibuku untuk merapikan rumahku. Setelah selesai,
kami istirahat sebentar. Lalu, Diana, Bella Helen, Shali, Carissa, dan Nadine akan
mengganti pakaian yang lebih formal sedangkan aku memakai kebaya berwarna nude yang dirancang oleh Nadine.
Beberapa jam kemudian, tibalah saatnya untuk memulai acara. Kedua keluarga
telah duduk berhadap-hadapan. Lalu, dimulailah acara lamaran aku dengan sang
direktur. Satu setengah jam telah berlalu, acara lamaran ini pun selesai dan
dilanjutkan dengan makan makanan yang telah disediakan. Namun, beberapa
undangan ada yang mengucapkan selamat sebelum mereka makan. Sweet Girl’s
memberikan selamat kepadaku dan juga tunanganku. Tiba-tiba mereka memberikan
sebuah hadiah kepadaku. Aku tidak menyangka dan aku terharu bahwa mereka akan
memberikanku hadiah. Aku sangat senang memiliki sahabat seperti mereka. Dzaki
pun mendatangiku dan diberikannya sebuket mawar putih untukku dan ayahnya
menepuk bahu anaknya dan mengatakan bahwa Dzaki kamu pintar, ayah bangga sama
kamu Dzaki! Aku tersipu malu sekaligus aku senang. Lalu, aku, Dzaki, dan
tunanganku makan bersama. Sweet Girl’s pun ikut makan bersama. Beberapa menit
kemudian, satu per satu para undangan pun berpamitan pulang dan mengatakan
kepadaku dan tunanganku bahwa semoga langgeng ya sampai kakek dan nenek. Lalu, tunanganku dengan semangat menyerukan
aamin, aamin terima kasih ibu dan bapak. Aku pun membalasnya dengan senyuman
manis dan berkata aamiin, terima kasih ya ibu dan bapak. Setelah semua undangan
pulang, Dzaki dan tunanganku juga pulang karena ia tahu bahwa aku kelelahan dan
dia menyuruhku untuk istirahat dan ia tidak akan menggangguku. Aku pun
mematuhinya, aku dengan segera masuk ke kamarku dan aku pun beristirahat.
Keesokan harinya, aku bangun dari tidurku dengan
senyuman manis pada pagi hari yang cerah ini. Aku pun bersiap diri untuk pergi
ke kantor televisi. Namun, pagi ini akan berbeda dengan pagi yang sebelumnya.
Pada pagi ini, tunanganku akan menjemputku! Beberapa menit kemudian, ia pun
datang ke rumahku ketika aku makan pagi dengan keluargaku. Lalu, aku
persilahkannya untuk masuk ke rumah dan bertemu dengan orang tuaku. Ia pun
mengatakan salam ketika ia menginjakkan ruang tamuku dan ia mencium tangan kedua
orang tuaku sama halnya seperti ia mencium kedua orang tuanya. Ayahku mengajak
tunanganku untuk makan pagi bersama. Lalu, kami pun makan pagi bersama. Setelah
itu, aku dan tunanganku berpamitan dengan kedua orang tua untuk pergi berangkat
bekerja. Lalu, kami tiba di kantor dan melakukan kegiatan sehari-hari seperti
biasanya.
Hari telah berganti begitu cepat, esok hari adalah
hari sabtu tanggal 28 Oktober 2017. Pada esok hari, Sweet Girl’s akan berkumpul
bersama di kediaman Bella Helen. Pada malam hari sabtu, aku mencari baju adat
Betawi, Baju Kurung. Setelah menemukan baju itu, aku segera merapikan baju,
perlatan mandi, dan perlengkapan untuk dimasukkan ke dalam koper yang berukuran
kecil. Lalu, aku memesan tiket pesawat ke Malang untukku, Diana, Bella Helen,
Shali, Carissa, dan Nadine untuk hari sabtu malam. Aku segera menghubungi
tunanganku bahwa pada sabtu malam aku akan menuju ke Malang dengan menggunakan
kapal terbang. Setelah kuhubungi, ia masih ingat bahwa agendaku pada hari
minggu akan ada menanam seribu pohon di Malang dan ternyata ia sudah memesan
sebuah kamar hotel berbintang lima untukku. Aku terkejut! Karena ia masih
mengingatnya, kalau aku menjadi dirinya mungkin aku sudah melupakan agenda
tunangannya itu. Namun, ia masih ingat. Aku pun mulai beranjak ke tempat
tidurku karena aku rasa kantuk sudah datang.
Hari Sabtu, tanggal 28 Oktober 2017, pun tiba. Hari
ini adalah Hari Sumpah Pemuda. Aku melakukan rutinitas pada pagi hari sebelum
berangkat ke kediaman Bella Helen. Beberapa menit kemudian, aku bersiap diri
dan berpamitan kepada kedua orang tua bahwa hari ini aku akan pergi untuk
merayakan Hari Sumpah Pemuda bersama sahabat-sahabatku. Dalam perjalanan menuju
kediaman Bella Helen, aku menghubungi tunanganku bahwa aku dalam perjalanan
menuju kediaman Bella Helen dan dia mengatakan bahwa hati-hati di jalan. Aku
pun sudah tiba di kediaman Bella Helen karena jalanan begitu lengang pada pagi
hari ini. Aku pun dibukakan pintu pagar serta pintu rumahnya oleh petugas
keamanan yang ada di kediaman Bella Helen. Lalu, aku memasuki rumahnya sembari
mengucapkan salam. Dari dalam terdengar bahwa ada seseorang yang menjawab salamku.
Orang itu adalah Bella Helen yang sedang memberi makan pada anaknya yang masih
belia. Bella Helen terpana olehku. Ia mengatakan bahwa aku cocok sekali
menggunakan pakaian dan make-up
seperti ini. Ia mengatakan pada hari ini aku terlihat beda seperti biasanya
yang sering ia lihat di televisi ketika acara Din’s Care ditayangkan. Lalu,
Shali, Nadine, dan juga Carissa datang bersamaan. Shali menggunakan baju adat
Palembang yaitu Aesan Gede, sedangkan Nadine menggunakan baju adat Padang yaitu
Baju Batabue, dan Carissa menggunakan baju adat Sumatera Utara yaitu Kain Ulos.
Mereka menyapa dengan Bella Helen tetapi ia tidak menyapa padaku. Mungkin
karena hari ini aku memakai make-up
yang berbeda daripada yang biasanya sehingga mereka tidak mengenaliku. Lalu,
Carissa pun bertanya Dina belum datang? Aku pun menjawabnya hei, aku dari tadi
disini. Mereka semua menoleh ke arahku
dan mereka tercengang melihatku. Mereka mengatakan bahwa aku berbeda seperti
pada biasanya. Mereka mengatakan bahwa make-up
yang kupakai hari ini sangatlah indah dan cocok di wajahku. Beberapa menit
kemudian, seorang fotografer itu pun datang dan kami pun memulai foto untuk
memperingati Hari Sumpah Pemuda dan dapat diabadikan di media sosial agar
masyarakat bisa mengetahui kalau geng sosialita mempunyai kegiatan positif.
Beberapa jam kemudian, akhirnya kami pun selesai. Kemudian, kami berbincang-bincang
tentang kegiatan menanam seribu pohon di Malang esok hari. Setelah itu, kami
pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil barang-barang yang akan dibawa ke
Malang. Lalu, kami pun segera ke Bandar Udara Soekarno Hatta dan kami pun tiba
di Bandar Udara Soekarno Hatta. Lalu, kami segera check-in tiket pesawat. Masih ada waktu selama empat puluh lima
menit sebelum masuk ke dalam pesawat, aku pun berjalan-jalan sendirian. Ketika
berjalan, aku dihubungi oleh tunanganku yang ingin mengetahui kondisiku dan
mengatakan hati-hati di jalan. Tunanganku tidak bisa datang ke bandar udara
karena ada suatu perihal yang harus diurus olehnya. Aku tidak akan marah dan
memaafkannya untuk kali ini saja. Empat puluh lima menit telah berlalu, kami
pun segera masuk ke dalam pesawat karena pesawat akan lepas landas. Lima menit
kemudian, pesawat pun lepas landas. Doakan kami ya untuk selamat sampai tujuan!
Satu jam tiga puluh menit telah berlalu, kami
sekarang sudah berada di Bandar Udara Abdul Rachman Saleh, Malang. Lalu, kami
pun berangkat ke sebuah hotel yang telah dipesan masing-masing ketika masih di
Jakarta. Setelah sampai di hotel, kami pun langsung beristirahat karena kami
butuh energi untuk esok hari.
Kami pun terbangun dari tidur karena untuk melakukan
ibadah pada pagi hari. Lalu, aku berenang di hotel, Shali berlari di sekitaran
hotel, Diana masih bersantai di kamar dengan Nadine, dan Bella Helen serta
Carissa sedang memesan makanan untuk makan paginya di restoran hotel tersebut.
Beberapa menit kemudian, kami sudah siap untuk melakukan kegiatan “Menanam
Seribu Pohon bersama Gubernur Malang serta Pemuda/I”. Lalu, kami pun berangkat
ke tempat menanam pohon tersebut. Ketika sampai disana, kami disambut oleh
gubernur Malang yang akan mengalungkan kalungan bunga. Kami pun senang sekali
melihat pemuda/i Malang yang semangat untuk melakukan kegiatan menanam seribu
pohon. Bahkan ada masyarakat Malang yang membuat sebuah spanduk yang berjudul
dengan “SELAMAT DATANG DI MALANG, MY SWEET GIRL’S”. Aku dan juga anggota Sweet
Girl’s yang lain merasa terharu sekaligus senang karena betapa sayangnya mereka
kepada kami. Setelah itu, kami memulai menanam pohon yang telah dipandu oleh
pemandu acara ini. Ternyata cukup mudah untuk menanam pohon. Untuk merawat dan
menjaga pohon juga tidak begitu sulit. Tetapi mengapa kebanyakan orang sulit
sekali untuk menanam beberapa pohon di perkarangan rumahnya? Dan mengapa
kebanyakan orang menebang pohon sembarangan ataupun membakar hutan? Bukankah
pohon itu memiliki peran yang sangat penting? Seperti misalnya pohon dapat
menghasilkan oksigen dan oksigen tersebut akan kita hirup dan juga pohon juga
dapat menyerap polutan sehingga mengurangi terjadinya pemanasan global. Aku
heran melihat orang-orang yang tidak tahu betapa pentingnya peran pohon bagi
kehidupan manusia. Waktu berjalan begitu cepat, hari mulai senja dan kami beserta
gubernur malang dan juga pemuda/i pun telah menanam seribu pohon dan aku
berharap pohon ini tidak akan ditebang maupun dibakar oleh orang yang bertangan
jahil dan tidak bertanggung jawab. Kami pun diajak makan malam bersama oleh
gubernur Malang. Kami pun bercengkerama oleh gubernur sembari makan malam. Aku
pun makan dengan lahap karena aku sedang kelaparan. Setelah makan malam, kami
pun berpamitan dengan gubernur Malang dan segera menuju ke hotel. Ketika kami
sampai di kamar hotel masing-masing, kami dengan segera mandi. Setelah itu,
Sweet Girl’s akan berkumpul di kamarku untuk mengevaluasi tentang kegiatan ini.
Dan hasil evaluasi kami, kami akan melakukan sebuah kampanye tentang aksi
peduli lingkungan. Kampanye ini berisikan tentang penggalangan dana dan dana
tersebut akan diberikan kepada suatu organisasi yang cinta terhadap lingkungan.
Kampanye itu akan dilakukan dari tanggal 04 Desember 2017 hingga 28 Januari
2018. Aku serta Sweet Girl’s akan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk
ikut bergabung bersama kami. Lalu, kami pun tertidur di kamarku karena kami
kelelahan setelah seharian melakukan kegiatan.
Keesokan harinya, kami terbangun dari tidurnya
dengan senyuman manis yang akan memulai aktivitas hari ini dengan semangat.
Kami pun berenang bersama. Lalu, kami mandi. Kemudian, kami makan pagi bersama.
Setelah makan pagi, kami akan mengelilingi kota Malang. Kami mengelilingi
Alun-Alun Merdeka Malang. Kami hanya sebentar disana dan kami berangkat menuju
Pantai Tamban yang elok dan juga tidak kalah dengan Pantai Kuta, Bali. Disana
kami pun mengabadikan foto, bermain, berlari, dan bernyanyi bersama. Karena
kami semua menyukai petuangalan maka dari itu kami akan menuju ke Rafting
Kasembon setelah dari pantai. Beberapa jam kemudian, kami pun cukup puas untuk
berjalan-jalan di Kota Malang yang tidak kalah menariknya dari kota-kota yang
lain. Lalu, kami bergegas menuju ke hotel dengan segera. Ketika sampai disana,
kami pun beristirahat lebih awal karena kami akan pulang ke Jakarta pada pagi
buta.
Pada pagi buta sekali, kami sudah berada di Bandar
Udara Abdul Rachman Saleh dan kami sudah berada di dalam pesawat yang sebentar
lagi akan lepas landas menuju Jakarta. Satu jam tiga puluh menit kemudian, kami
pun telah sampai di Bandar Udara Soekarno Hatta. Lalu, kami pun terpisah satu
sama lain untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Ketika aku pengin memanggil
taksi di bandara, telepon genggamku berdering dan yang meneleponku adalah
tunanganku. Lalu, aku pun menjawab panggilan itu. Dikatakannya bahwa tunanganku
ini sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta untuk menjemputku. Lalu, aku mencari
mobilnya itu. Setelah aku menemuinya, aku pun masuk ke dalam mobilnya dan kami
pun menuju ke rumahku. Selama di perjalanan, aku mulai menceritakan pengalaman
yang seru bersama Sweet Girl’s di Malang. Lalu, ia mengatakan maaf bahwa ia
tidak bisa ikut ke Malang bersamaku. Lalu, aku mengatakan bahwa aku akan ada
kegiatan kampanye tentang aksi peduli lingkungan pada tanggal 04 Desember 2017
hingga 28 Januari 2018. Setelah itu, ia mengatakan bahwa aku harus menjaga
kesehatan karena aku memiliki kegiatan yang begitu banyak dan aku mengucapkan
terima kasih kepadanya karena ia telah memperhatikanku. Lalu, tibalah di
rumahku. Pada hari ini, tunanganku mengatakan bahwa hari ini aku tidak akan
menjadi pembawa acara di Din’s Care karena ia menginginkanku untuk
beristirahat. Lalu, aku akan menuruti perkataannya dan seharian ini aku akan
berada di rumah untuk beristirahat.
Keesokan harinya, aku bangun pagi dengan wajah yang
segar dan semangat untuk membawakan acara Din’s Care. Aku pun bersiap diri dan
aku akan berangkat ke kantor televisi. Pada hari ini, aku kembali lagi untuk
menjadi pembawa acara di Din’s Care. Lalu, aku menjalani aktivitas seperti
biasa.
Hari-hari demi hari telah kulewati dengan begitu
cepat. Hari ini adalah hari Sabtu 04 November 2017. Pada hari ini, aku akan
bertemu dengan tunanganku untuk membicarakan tentang acara mengikat jani suci
kami yang akan dilaksanakan pada tanggal 01 Desember 2017. Kurang dari sebulan,
kami akan mengatur acara ini dengan menggunakan sebuah wedding organizer ternama. Lucy
Wedding Organizer telah kupilih untuk menjadi wedding organizer di acaraku nanti. Banyak yang mengatakan bahwa Lucy Wedding Organizer akan mengatur
pernikahan dengan hasil yang baik dan bagus walaupun ia mengerjakannya kurang
dari sebulan. Lalu, kami pun ke tempat Lucy Wedding Organizer untuk
memperbincangkan tentang makanan yang akan dihidangkan, dekorasi ruangan, dan
masih banyak hal yang akan diperbincangkan. Enam jam kemudian, akhirnya kami
sudah menyelesaikan tentang acara pernikahan untuk pengikatan janji suci yang
akan diselenggarakan di Masjid Pondok Indah, pada tangggal 01 Desember 2017.
Setelah sepakat dengannya, kami pun menuju ke tempat sang desainer baju
pernikahan untuk pengikatan janji suci, Nadine. Aku ingin memeriksa bagaimana
baju pernikahanku untuk acara pengikatan janji suci, apakah akan bagus di
mataku atau sebaliknya? Tetapi, aku akan percayakan kepada Nadine yang akan
membuatkan baju pernikahanku untuk acara pengikatan janji suci. Ketika tiba
disana, aku melihat sebuah baju pernikahan berwarna putih yang dibalurkannya
manik-manik yang akan mempercantik baju pernikahan tersebut. Aku bertanya
bagaimana baju pernikahanku apakah sudah selesai apa dalam pemrosesan? Lalu, ia
menunjuk ke sebuah baju pernikahan yang sudah kulihat tadi ketika tiba disini.
Aku sangat menyukai baju pernikahan baju itu. Aku bertanya lagi apakah baju
pernikahan untuk calon suamiku telah selesai atau dalam pemrosedan? Dia
mengatakan bahwa baju pernikahan untuk calon suamiku belum selesai namun dalam
tahap penyelesain. Jadi, sekitar satu minggu lagi baju pernikahan untuk calon
suamiku akan selesai. Setelah itu, aku
dan calon suamiku ini akan berjalan-jalan pada malam minggu yang indah ini.
Setelah selesai berjalan-jalan, ia akan mengantarkanku pulang ke rumah.
Keesokan harinya, aku melakukan rutinitas pagi
seperti biasanya. Setelah itu, aku mulai belajar untuk mengikuti tes kedokteran
empat bulan lagi. Empat jam kemudian, aku telah selesai untuk belajar untuk
mengikuti tes kedokteran. Setelah itu, aku berangkat ke rumahnya Diana untuk
membicarakan tentang kampanye aksi peduli lingkungan lebih lanjut. Lalu, aku
pun tiba di rumahnya. Aku disambut hangat oleh keponakannya yang sedang
menginap di rumahnya. Kemudian, Diana dan aku pun mulai membicarakannya.
Ternyata Diana sudah menyuruh seseorang untuk mengatur segalanya untuk kampanye
ini. Aku pun bisa bernapas lega karena ia telah menyuruh seseorang untuk
mengatur segala untuk kampanye aksi peduli lingkungan. Pada sore hari, aku pun
pulang ke rumahku setelah seharian ini bermain dan berbincang-bincang dengan
Diana. Ketika sampai di rumah, aku segera ke kamarku dan aku pun terbaring di
tempat tidurku. Lalu, aku pun tertidur di tempat tidurku yang nyaman ini.
Hari telah berganti, hari ini hari Senin pada
tanggal 06 November 2017. Hari ini aku akan menjalani seperti biasa. Karena aku
memiliki aktivitas yang banyak, hari telah kulewati dengan cepat. Hari ini
sudah hari sabtu lagi dan pada hari ini aku dan calon suamiku akan pergi ke
tempat Nadine untuk melihat baju pernikahan untuk calon suamiku. Ketika sampai
disana, aku meilhat baju pernikahan untuknya yang letaknya berada di samping
baju pernikahanku. Aku kagum dengan hasil karya Nadine karena ia begitu pandai
dalam membuat baju yang indah. Pantas saja ia membuat harum nama Indonesia di
kancah dunia internasional khususnya di
bidang pakaian. Setelah itu, kami membayar baju pernikahan kami kepada
sahabatku ini, Nadine. Kemudian, aku diajak oleh calon suamiku untuk pergi ke
rumahnya yang berada di Menteng, Jakarta Pusat. Ketika sampai di rumahnya,
Dzaki menyambutku dengan riang dan ia mengatakan bahwa ia rindu kepadaku. Aku
pun bermain di rumahnya hingga petang. Lalu, calon tunanganku beserta Dzaki
akan mengantarkanku pulang.
Hari telah berganti dengan sangat cepat, tidak ada
yang menarik untuk diperbincangkan. Hari ini adalah hari kamis tanggal 30
November 2017. Hari ini aku akan melakukan perawatan kulit untuk dilulur
seperti khalayak orang yang akan menikah bersama Sweet Girl’s. Hari ini dan
esok aku akan mengambil cuti. Karena aku akan segera menikah jadi aku harus
beristirahat lebih banyak. Setelah luluran, aku dan Sweet Girl’s akan melakukan
manicure dan juga pedicure. Setelah itu, kami merapikan
dan merawat rambut kami agar terlihat lebih menawan khususnya untukku. Karena
pada esok hari, aku akan menjadi pusat perhatian jadi aku akan merapikan
rambutku. Setelah itu selesai, mereka pun mengantarkanku pulang. Di tengah
perjalanan, mereka memberikan wejangan-wejangan untukku. Lalu, kami pun tiba
dan aku pun segera turun dari taksi. Aku pun beristirahat lebih awal untuk
menjaga kesehatanku pada esok hari.
Aku terbangun dari tidurku. Aku sangat senang bahwa
hari ini adalah hari pernikahanku. Hari ini aku akan berolahraga sebentar.
Lalu, aku akan membersihkan badanku. Lalu, aku dan keluarga besarku berangkat
menuju ke Masjid Pondok Indah. Ketika sampai disana, aku akan dipakaikan riasan
diwajaku dengan stylist dari Lucy Wedding Organizer. Setelah
dipakaikan riasan di wajaku, aku memakai baju pernikahanku yang berwarna putih.
Setelah itu, Sweet Girl’s datang untuk melihat apakah riasan di wajahku ini
bagus atau tidak. Lalu, mereka sontak menyerukan Dinaa, kau sungguh-sungguh
cantik! Kau bukan Dina pada biasanya! Aku sangat senang mendengar bahwa mereka
mengatakan bahwa aku sungguh-sungguh cantik dan aku bersyukur karena aku telah
memilih wedding organizer yang tepat.
Beberapa menit kemudian, acara pegikatan janji suci pun dimulai. Hatiku dag dig dug sama seperti halnya ketika
aku pertama kali di depan pintu ruangan direktur. Akankah aku dengan dia
menjadi sepasang suami istri? Lalu, ia pun mengucapkan ijab kabul dengan lancar
dan para saksi mengatakan sah. Aku bersyukur aku telah mejadi istrinya. Istri dari
Muhammad Adam Aldrich Hamizan yang merupakan seorang direktur dan juga ayah
dari Dzaki. Lalu, aku pun masuk ke ruangan ijab kabul dan aku duduk
disampingnya. Kemudian, aku dipasangkannya sebuah cincin berlian yang sangat
artistik di jari manisku. Begitu pula denganku, aku memasangkan sebuah cincin
berlian di jari manisnya. Lalu, aku mencium tangannya sebagai seorang istri
untuk pertama kalli dalam seumur hidupku. Anggota Sweet Girl’s pun mengabadikan
momen kebahagiaanku. Beberapa menit kemudian, para tamu undangan pun memberikan
selamat menempuh hidup baru dan mendoakan aku dan suamiku agar menjadi pasangan
yang saling menenteramkan, saling
mencintai, dan juga saling menyayangi satu sama lain sepanjang masa. Lalu, Dzaki
memperkenalkan ibu kandungnya kepadaku. Untuk pertama kalinya aku melihat ibu
kandungnya dan ia pun mengatakan selamat menempuh hidup baru dan mendoakan aku
dan suamiku agar menjadi pasangan yang
saling menenteramkan, saling mencintai, dan juga saling menyayangi satu
sama lain sepanjang masa dan dia pun memberikan senyuman manis kepadaku
walaupun aku belum pernah bertemu dengannya. Lalu, aku membalas senyumnya itu
dengan senyuman manis. Lalu, para tamu undangan pun memakan makanan yang sudah
dihidangkan dari pihak catering. Setelah
itu, Sweet Girl’s pun juga memberikan ucapan selamat dan medoakanku agar
keluargaku yang baru ini menjadi keluarga yang harmonis. Kemudian, Sweet Girl’s
memberikan sebuah hadiah untukku. Aku pun menerimanya. Beberapa jam kemudian,
pernikahan ini pun selesai. Lalu, aku, Adam, dan kedua orang tuaku dan juga
kedua orang tua Adam pun makan bersama sembari bercengkerama. Setelah itu, kami
pun pulang ke rumah masing-masing. Namun, kini aku menjadi seorang istri dari
Adam. Jadi, aku akan pulang ke rumahnya. Ketika sampai di rumahnya Adam, aku
pun langsung tertidur di tempat kasur miliknya.
Keesokan harinya dan hari minggu tanggal 03 Desember
2017, aku akan menghabiskan waktu seharian di rumah bersama keluarga baruku
ini. Aku bermain dengan Dzaki, aku membuatkan makan pagi, makan siang, makan
malam, hingga camilan untuk Dzaki dan juga Adam. Waktu berjalan begitu cepat,
dan pada akhirnya kami pun tidur karena sudah larut malam.
Tanggal 04 Desember 2017 hingga tanggal 28 Januari
2018, Sweet Girl’s akan mengadakan kampanye. Kampanye ini tentang penggalangan
dana yang akan diberikan kepada sebuah organisasi pecinta lingkungan. Sweet
Girl’s pun berharap bahwa akan ada perubahan terhadap lingkungan. Perubahan itu
berupa banyaknya pohon-pohon di daerah yang tandus dan mereboisasi hutan-hutan
yang gundul maupun yang telah dibakar. Aku sangat sibuk untuk mengurus kampanye
ini dari tanggal 04 Desember 2017 hingga 29 Desember 2017. Namun, pada tanggal
30 Desember 2017 rejeki pun datang kepadaku. Aku diberitakan oleh dokter
kandungan bahwa aku telah mengandung setelah aku merasakan pusing dan aku
sering mual dan juga muntah-muntah. Aku dan Adam sangat gembira dan sangat
bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena-Nya aku mendapatkan rejeki yang
sangat membahagiakan hatiku. Aku akan memberikan kabar gembira ini kepada kedua
orang tuaku, kedua orang tua Adam, dan seluruh kerabat dekatku khususnya Sweet
Girl’s, dan juga keluarga besarku. Karena aku mengandung dan aku dilarang oleh
suamiku untuk berkampanye lagi tetapi Adam telah menyuruh karyawannya untuk
menggantikanku berkampanye serta ia juga akan mengumumkan kampanye itu di
perusahan televisinya itu.
Keesokan harinya, aku diberikan hadiah oleh Adam.
Hadiah itu berupa berlibur di Bali selama seminggu untuk merayakan perayaan
penggantian tahun baru sekaligus untuk menghilangkan kepenatan. Selama seminggu
disana aku menghabiskan waktu di hotel yang berada di pantai yang langsung
menghadap ke laut. Aku sangat menikmati lliburan itu. Liburan kali ini sangat
spesial karena aku berlibur dengan orang terkasih dan anaknya layaknya anak
kandungku sendiri, Dzaki.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, kini sudah
tanggal 28 Januari 2018. Hari ini adalah hari terakhir penggalangan dana. Pada
hari ini sudah terkumpul dana sebanyak satu miliar sembilan ratus juta tiga
ratus ribu lima puluh lima ribu dua ratus lima belas rupiah. Aku berharap akan
ada seseorang mengirimkan seratus juta untuk mencapai dua miliar. Beberapa jam
kemudian, seseorang telah mengirimkan seratus juta. Lalu, aku dan dari pihak organisasi
pecinta lingkungan telah sepakat akan memberikan dana tersebut di tempat yang
telah kutentukan pada esok hari. Detik demi detik telah kulewati, hari sudah
berganti. Aku sangat berterima kasih
sekali dengan orang-orang yang telah mengirimkan dana seikhlasnya untuk
kampanye peduli lingkungan. Aku hanya berpesan bahwa jika seseorang sudah
menanam pohon dan merawat pohon maka orang lain dengan tolong untuk menjaga dan
merawat pohon itu dengan baik. Jangan membuat pohon itu ditebang apalagi
dibakar. Pohon sangat berarti di kehidupan kita. Janganlah membuang sampah
sembarangan. Hal ini yang menjadi perkara di Indonesia. Banyak orang yang masih
membuang sampah sembarangan.
Lalu, tanggal 03 Februari 2018 pun tiba. Pada hari
ini, aku akan menggelar pesta pernikahanku di sebuah hotel berbintang lima, aku
mengajak anak-anak dari yayasan kanker dan gubernur Malang untuk ikut hadir di
pesta pernikahanku. Hari ini aku menggunakan sebuah gaun berwarna nude dan Adam memakai jas berwarna
hitam. Pernikahanku dan Adam bak seperti pernikahan pangeran dan princess. Banyak
artis terkenal, penyanyi ternama, dan para pengusaha diundang olehku dan Adam. Sweet
Girl’s pasti hadir di pesta pernikahanku sebagai bridesmaid. Mereka pun menyumbangkan sebuah lagu untuk memeriahkan
pesta pernikahanku ini. Pada pesta pernikahan kami begitu semarak. Lalu, aku
melemparkan buket bunga kepada para undangan termasuk bridesmaid. Setelah itu, aku melihat Nadine mendapatkan buket bunga
dariku. Banyak yang bilang bahwa jika mendapatkan buket bunga dari pengantin
maka orang itu juga segera menikah. Lalu, siapakah pendamping hidup Nadine?
Bagaimana mereka bisa dipertemukan hingga mereka naik di atas pelaminan? Tunggu cerita selanjutnya yaa.. xoxo :)