Senin, 16 November 2020

Artikel Penelitian

“INTIP SEKTOR INDUSTRI PERFILMAN INDONESIA”

Mirdiana Noorfitria


Industri perfilman kian berkembang tiap zaman. Perkembangan perfilman dapat dirasakan dengan hadirnya teknologi yang canggih yang dapat memudahkan para pekerja maupun pemain film dalam menggarap film, semakin banyak orang yang tertarik untuk menonton film dari tahun ke tahun (menurut Katadata, pertumbuhan jumlah penonton di bioskop Indonesia mencapai 230% dalam lima tahun terakhir),  dan lain-lain. Kemudian, semakin banyaknya jumlah penonton maka  pemerintah mendorong dunia perfilman Indonesia mengenai pendanaan. Pendanaan dalam pembuatan film terbuka lebar bagi orang-orang baik luar maupun dalam negeri yang ingin menginvestasikan uangnya untuk membiayai pembuatan film tersebut. Hal tersebut dapat meningkatkan kualitas industri perfilman, dapat memperluas pasar perfilman Indonesia ke kancah internasional sehingga dapat meningkatkan perekenomian negara, dapat memperkenalkan budaya Indonesia, dan lainnya.

Pada dasarnya pasar perfilman di Indonesia memiliki potensi yang kuat yang disebabkan dengan jumlah penonton yang kian meningkat sehingga industri perfilman dapat memberikan pemasukan untuk negara. Namun, masih ada beberapa masalah yang menjadi hambatan serta tantangan bagi dunia perfilman Tanah Air. Pertama, mayoritas film lokal yang tidak kalah menarik dengan film luar negeri memiliki pemain yang sama sehingga dunia perfilman membutuhkan orang-orang yang memiliki kualitas akting yang handal dan layak diacungi jempol. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan cara membuka ajang pencarian bakat akting yang terbuka untuk umum sehingga masyarakat dapat mendaftarkan dirinya dan pemenang akan menjadi seorang aktor maupun aktris yang dapat berkontribusi pada penggarapan film nasional. Kedua, masih sering dijumpai situs-situs yang memberikan layanan menonton film gratis secara daring sehingga dapat merugikan bioskop dan juga situs tersebut merupakan sebuah situs illegal. Kemudian, situs tersebut dapat merugikan negara, karena negara tidak dapat pemasukan dari situs illegal tersebut. Lalu, pemerintah mengambil langkah untuk memblokir seluruh situs-situs illegal. Ketiga, terdapat kekurangan dalam jumlah layar pada studio di Indonesia. Setiap tahun, munculnya layar pada studio di tempat-tempat yang masih minim bioskop. Namun, menurut Wakil Kepala Bekraf, Ricky Pesik, jika ingin jumlah layar pada studio yang ideal maka harus membutuhkan sepuluh ribu total layar seiring dengan banyaknya populasi di Indonesia. Kemudian, ketua MPR Indonesia, Bambang Soesatyo, mendukung pertumbuhan film Tanah Air dengan cara bekerja sama dengan sebuah yayasan perfilman yang bertujuan untuk mendorong dan menciptakan film-film nasional yang dapat menimbulkan rasa cinta Tanah Air. Selain itu, perfilman di Indonesia sedang terguncang akibat munculnya Corona Virus. Apa saja hal-hal yang mengguncang perfilman Indonesia saat pandemi? Pandemi menjadi penghalang dalam memproduksi film dan mendistribusikannnya, dikarenakan banyak beberapa tempat lokasi pengambilan adegan film serta bioskop pun ditutup untuk memutus mata rantai covid-19. Selain itu, pelaku industri perfilman juga harus membayar pajak pada PPh pasal 21 dan 25. Adanya upaya Kementerian Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, akan memberikan insentif bagi pelaku industri. Pada PPh pasal 21, pajak-pajak yang dikenakan untuk pelaku industri akan ditanggung oleh pemerintah. Pada pasal 25, pemerintah akan memberikan diskon sebesar 30% . Hal tersebut diharapkan dapat membantu dunia perfilman Indonesia saat pandemi. Semoga lekas pulih ya perfilman Indonesia!