“INTIP
SEKTOR INDUSTRI PERFILMAN INDONESIA”
Mirdiana Noorfitria
Industri
perfilman kian berkembang tiap zaman. Perkembangan perfilman dapat dirasakan
dengan hadirnya teknologi yang canggih yang dapat memudahkan para pekerja
maupun pemain film dalam menggarap film, semakin banyak orang yang tertarik
untuk menonton film dari tahun ke tahun (menurut Katadata, pertumbuhan jumlah
penonton di bioskop Indonesia mencapai 230% dalam lima tahun terakhir), dan lain-lain. Kemudian, semakin banyaknya
jumlah penonton maka pemerintah
mendorong dunia perfilman Indonesia mengenai pendanaan. Pendanaan dalam
pembuatan film terbuka lebar bagi orang-orang baik luar maupun dalam negeri yang
ingin menginvestasikan uangnya untuk membiayai pembuatan film tersebut. Hal
tersebut dapat meningkatkan kualitas industri perfilman, dapat memperluas pasar
perfilman Indonesia ke kancah internasional sehingga dapat meningkatkan perekenomian
negara, dapat memperkenalkan budaya Indonesia, dan lainnya.
Pada
dasarnya pasar perfilman di Indonesia memiliki potensi yang kuat yang
disebabkan dengan jumlah penonton yang kian meningkat sehingga industri
perfilman dapat memberikan pemasukan untuk negara. Namun, masih ada beberapa
masalah yang menjadi hambatan serta tantangan bagi dunia perfilman Tanah Air. Pertama,
mayoritas film lokal yang tidak kalah menarik dengan film luar negeri memiliki
pemain yang sama sehingga dunia perfilman membutuhkan orang-orang yang memiliki
kualitas akting yang handal dan layak diacungi jempol. Permasalahan tersebut
dapat diatasi dengan cara membuka ajang pencarian bakat akting yang terbuka
untuk umum sehingga masyarakat dapat mendaftarkan dirinya dan pemenang akan
menjadi seorang aktor maupun aktris yang dapat berkontribusi pada penggarapan
film nasional. Kedua, masih sering dijumpai situs-situs yang memberikan layanan
menonton film gratis secara daring sehingga dapat merugikan bioskop dan juga
situs tersebut merupakan sebuah situs illegal. Kemudian, situs tersebut dapat
merugikan negara, karena negara tidak dapat pemasukan dari situs illegal tersebut.
Lalu, pemerintah mengambil langkah untuk memblokir seluruh situs-situs illegal.
Ketiga, terdapat kekurangan dalam jumlah layar pada studio di Indonesia. Setiap
tahun, munculnya layar pada studio di tempat-tempat yang masih minim bioskop.
Namun, menurut Wakil Kepala Bekraf, Ricky Pesik, jika ingin jumlah layar pada
studio yang ideal maka harus membutuhkan sepuluh ribu total layar seiring
dengan banyaknya populasi di Indonesia. Kemudian, ketua MPR Indonesia, Bambang Soesatyo,
mendukung pertumbuhan film Tanah Air dengan cara bekerja sama dengan sebuah yayasan
perfilman yang bertujuan untuk mendorong dan menciptakan film-film nasional
yang dapat menimbulkan rasa cinta Tanah Air. Selain itu, perfilman di Indonesia
sedang terguncang akibat munculnya Corona Virus. Apa saja hal-hal yang
mengguncang perfilman Indonesia saat pandemi? Pandemi menjadi penghalang dalam
memproduksi film dan mendistribusikannnya, dikarenakan banyak beberapa tempat
lokasi pengambilan adegan film serta bioskop pun ditutup untuk memutus mata
rantai covid-19. Selain itu, pelaku industri perfilman juga harus membayar
pajak pada PPh pasal 21 dan 25. Adanya upaya Kementerian Keuangan Indonesia,
Sri Mulyani, akan memberikan insentif bagi pelaku industri. Pada PPh pasal 21,
pajak-pajak yang dikenakan untuk pelaku industri akan ditanggung oleh
pemerintah. Pada pasal 25, pemerintah akan memberikan diskon sebesar 30% . Hal
tersebut diharapkan dapat membantu dunia perfilman Indonesia saat pandemi.
Semoga lekas pulih ya perfilman Indonesia!