Masa Perkuliahan
Hai haii..Maaf banget gue baru sempat nulis blog lagi.
Ada beberapa hal yang menghalangi gue buat nulis blog. Salah satunya adalah kegiatan perkuliahan gue yang lumayan padat, karena sudah di penghujung tahun 2019, gue ingin meminta maaf kalau penulisan gue selama ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, gue dengan senang hati jika ada kritikan atau masukan agar gue akan lebih baik lagi dalam penulisan blog.
Kali ini gue akan membahas suatu topik yang ringan. Hidup saja yang berat ya, tulisan kali ini yang ringan. Oke?
Gue akan menceritakan tentang cerita perkuliahan gue semester 1. Ada yang tahu gue kuliah dimana? Lokasi kampus gue ada di Jakarta. Gue masuk ke sebuah universitas yang tergolong baru dan dapat dikatakan sebagai universitas swasta. Gue tidak akan memberi tahu universitas gue, karena gue bukan lagi promosi.😀
Ya, gue gagal masuk SBMPTN. Sedih memang tidak dapat berkuliah di sebuah institusi yang gue inginkan sedari dahulu. Namun, kesuksesan tidak berdasarkan institusi. Hal ini yang membuat gue lebih terhibur. Sebelum gue bercerita tentang perkuliahan, gue akan bercerita tentang usaha jerih payah gue untuk mengejar PTN yang gue inginkan. Dari kelas 10 hingga kelas 12, gue selalu mempertahankan nilai gue, gue selalu maju ke depan kelas agar nilai gue stabil, tugas-tugas yang diberikan selalu gue kumpulkan tepat waktu, dan berbagai usaha gue lakukan untuk mempertahankan nilai gue. Namun, semua usaha yang gue lakukan pastinya yang positif ya. Lalu, gue mendapatkan peluang untuk masuk ke perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN. Gue sangat senang sekali ketika gue lulus kuota sekolah untuk bersaing dengan pesaing SNMPTN lainnya. Keika pengumuman SNMPTN, gue menerima tulisan berwarna alias gue gagal diterima di perguran tinggi yang gue inginkan melalui jalur SNMPTN, tetapi gue tidak menyerah, karena ada kesempatan lainnya. Salah satu kesempatan yang menjadi peluang gue untuk berkuliah di institusi itu adalah jalur undangan yang diselenggarakan oleh institusi tersebut. Keesokan harinya, pengumuman jalur undangan tersebut diumumkan dan gue dapat tulisan merah lagi. Gue sudah patah semangat dan membuat gue down sehingga gue belajar untuk SBMPTN kurang yakin dan kurang semangat. Pengumuman SBMPTN pun gue menerima tulisan berwarna merah alias gue gagal masuk ke PTN yang gue inginkan. Gue merasa berhutang budi (banget) kepada kedua orangtua gue yang telah melakukan berbagai usaha untuk gue masuk ke PTN, karena gue tidak akan pernah diperbolehkan untuk berkuliah di luar Jakarta, karena orangtua gue ingin gue tidak jauh dari mereka. Sebenarnya gue ingin sekali yang namanya hidup merantau, ingin hidup mandiri, dan hal-hal lainnya yang dapat membuat gue lebih baik lagi, tetapi takdir berkata lain. Gue harus menelan semua permasalahan ini pahit-pahit. Iya, sedih. Gue ingin berteriak dengan sekencang mungkin, karena hati gue sudah berkecamuk. Namun, gue tidak bisa melakukan itu. Gue sudah terlalu lelah. Oleh karena itu, gue jarang menulis blog.
Lalu, gue bangkit dari kondisi terpuruk gue. Gue harus bisa membuat orangtua gue bangga dengan jalan yang gue pilih. Gue berkuliah di universitas swasta di kawasan Jakarta Selatan. Pada awalnya, gue memberikan kesan pertama universitas ini dengan kalimat-kalimat yang negatif, karena gue masih belum menerima kalau gue harus berkuliah di tempat yang bukan keinginan gue. Namun, gue harus beradaptasi, gue harus membenahi hati gue yang hancur berantakan, dan berbagai hal lainnya bahwa gue harus bangkit. Ada satu hal yang patut gue syukuri adalah gue masih tinggal dengan orangtua gue sehingga memudahkan gue jika suatu kejadian yang tidak terduga. Selain itu, terdapat hal lainnya yang kemungkinan menjadi penyebab gue berkuliah di kampus ini yaitu, gue berniat dan berjanji bahwa gue akan menutup diri gue dengan menggunakan hijab selamanya. Gue mengucapkan ketika gue sedang ujian masuk universitas ini. Gue memulai untuk melaksanakan janji gue pada hari pertama ospek perkuliahan dimulai. Pada saat itu, gue memulai kehidupan yang baru, karena menggunakan hijab bukan hanya memakai sebuah kain di atas kepala saja, melainkan gue harus tetap konsisten dengan niat gue untuk mendekatkan diri dengan-Nya. Singkat cerita, gue mulai menikmati berkuliah di universitas ini. Gue jarang sekali bertemu dengan orang Jakarta. Di universitas gue ini, banyak sekali orang yang merantau ke Jakarta. Gue harus bisa beradaptasi dengan mereka setelah kondisi hati gue lebih baik. Kemudian, gue sangat merasakan perbedaan belajar di bangku sekolah dengan bangku kuliah. Satu hal yang sangat berbeda adalah dengan para pengajar. Di bangku sekolah, guru akan memberikan murid-muridnya waktu untuk menulis materi pembelajaran sedangkan dosen tidak. Gue harus pintar dalam membuat catatan perkuliahan sehingga gue akan belajar dari catatan-catatan gue yang ada. Selain itu, mahasiswa juga harus mencari referensi dari buku apabila diberikan tugas makalah, laporan, ataupun lainnya. Jadwal perkuliahan pun juga berbeda dengan jadwal ketika kita duduk di bangku sekolah. Jadwal perkuliahan bergantung pada banyaknya mata kuliah yang mahasiswa ambil. Mahasiswa pun harus bisa mengatur keuangan, terutama mahasiswa yang merantau, karena mahasiswa harus bisa mengantisipasi apabila ada hal-hal di luar dugaannya. Ketika gue ingin ujian ataupun quiz, gue harus bisa mencari materi-materi perkuliahan apabila materi tersebut belum sempat gue tulis di catatan perkuliahan gue. Oleh karena itu, gue harus menulis materi perkuliahan dengan sebaik mungkin. Ketika kita menjadi mahasiswa, kita harus pintar dalam memilih teman. Hal ini dapat menjadi koneksi dikemudian hari nanti. Kurang lebih hal di atas merupakan cerita perkuliahan gue yang sangat berbeda dengan gue belajar di bangku sekolah.